Beberapa hari belakangan saya dibuat “menganga” melihat perilaku orang-orang di sekitar saya. Enggak bermaksud untuk nge-judge tapi yaaa„ cukuplah untuk bikin geleng-geleng kepala.
Singkat cerita, adalah seorang teman yang sepertinya cukup naas nasibnya dalam hubungan percintaan anak muda.
Sebut saja oknum A. A memiliki tiga kali pengalaman serupa dengan tiga orang berbeda-beda yang sempat singgah di hidupnya, mewarnai harinya, dan mengisi hatinya (okay I feel like puking right now).
Tiga orang yang berbeda, satu kisah serupa. Dia terlibat “fling” dengan tiga orang berkarakter labil. Sebelum saya bercerita lebih jauh mari kita samakan persepsi tentang definisi labil.
Menurut gersonpedia (suka-suka gw udah ah ini kan notes gw) labil adalah:
a. Orang yang gak sinkron pikiran, omongan, dan tindakan.
b. Bertindak di luar ekspektasi (in a very negative way)
c. Orang yang sebenarnya gak tau tujuannya ke mana, tapi mengatasnamakan hal lain (seperti: cinta, bisikan surgawi) untuk melangkah pasti ke sebuah tujuan. Sinonim: pintar mencari pembenaran.
Yah, bahasa seriusnya labil adalah tidak punya integritas.
Laki-laki dinilai tentunya dari omongannya. Ralat. Dari cara dia memegang omongannya.
Si A pun bingung kenapa sudah tiga kali dia terus jatuh di lubang yang sama. Lubang kelabilan. Maka saya, dan beberapa teman lain, membantu A, menganalisa kita sebut saja, si three musketeer. Apa kesamaan mereka, supaya next time, A bisa belajar dan tidak lagi jatuh ke lubang yang sama untuk keempat kalinya (amit-amit).
Mari sama-sama belajar supaya tidak seperti three musketeer itu atau setidaknya bisa menghindari hubungan dengan tipe orang sepert three musketeer itu.
Mereka Lembek.
Orang labil identik dengan lembek. Kata seorang teman saya, waktu dengar nasib si A, dia langsung cerita, “Ih ya udahlah. Gak worth it banget, laki-laki kok beda tipis sama perempuan, terlalu ngikutin perasaan.” Ya, saya juga dulu seperti itu sih, suka terlalu mengikuti emosi, but hey men are created to be tough and think logically, jangan terlalu gampang ngikutin perasaan.
Mereka Jago Bikin Pembenaran.
Jangan suka beralasan, apalagi kalau alasannya bawa-bawa Tuhan. Jangan kayak artis infotainment, yang sering jawab, “Yah, kami sih menyerahkan semuanya ke yang di Atas.” Atau sering bilang, “Tuhan bilang ke gue…” Hati-hati, suara Tuhan apa suara keinginan hati sendiri tuh? Saya juga dulu seperti ini, kata seorang teman, “Ini tricky banget emang buat orang kreatif, kadang kita suka susah bedain suara Tuhan sama suara sendiri.” Yuukkk..
Mereka Tidak Sabaran.
Ya enggak sabar aja nunggu waktu. Maunya melakukan percepatan dan akselerasi. Padahal, prosesnya belum matang mungkin.
Mereka Suka Main Petak Umpet.
Semuanya suka ngajak A main petak umpet, terutama petak umpet dari orangtua dan teman-teman. Hey your friends approval emang bukan segalanya, but their opinions matter! Tapi ya udahlah soal approval teman-teman dekat itu relatif, tapi approval orangtua itu absolute sifatnya. Kalau belum di-approve ya jangan main petak umpet, if you want to finish good, you have to start good.
Tapi ya sudahlah, ngetawain dan ngomongin orang itu gampang. Saya dan A tidak mau jadi orang yang sok paling benar, tapi kemudian kepeleset nantinya. Tapi yah, ini pesan saya teman-teman, kalau suatu hari liat saya hampir kepeleset, atau hampir menjilat ludah sendiri, saya memberikan otoritas kepada kalian (biar Tumblr jadi saksinya), untuk menampar pipi saya sekeras-kerasnya di depan publik. Hahaha…